//
you're reading...
ASY_SYAKUUR

Penjelasan Nama Dari Nama-nama Alloh Yang Maha Indah : ASY-SYAKUUR

Oleh :   Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Para pembaca yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini kita lanjutkan pembahasan seputar makna dari nama-nama Allah yang indah lagi mulia. Kemudian kita mencoba memetik berbagai pelajaran dari nama-nama Allah tersebut.

Diantara sekian nama-nama Allah kita pilih kali ini nama Allah “Asy Syakuur”. Landasannya firman Allah,
إِنَّ اللهَ غَفُورٌ شَكُور. الشورى : ٢٣

” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Nama Allah yang mulia ini terulang dalam dalam Alquran sebanyak empat kali[1].

Asy Syakuur secara etimologi dalam bahasa Arab berarti: Kata “Asy syakuur” berbentuk mubaalaghah (menunjukan kebersangatan). Maka Allah adalah Zat Yang Maha Mensyukuri (yang memiliki kesempurnaan mutlak dalam membalasi amal baik).

Dan bila dinisbatkan kepada manusia, maka ia adalah seseorang yang sangat bersungguh-sungguh sekali dalam mensyukuri Rabb-nya dengan ketaatan dan melakukan apa yang ditugaskan Rabb tersebut kepadanya dari berbagai bentuk ibadah[2]. Sebagaimana Allah memuji nabi Nuh ’alahissalam,
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا. الإسراء :٣

“Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”

Dari ayat di atas dapat kita lihat bahwa nama Asy Syakuur juga diberikan Allah kepada Makhluk yang paling banyak bersyukur[3]. Lalu bagaimana perbedaan antara keduanya? Terlebih dahulu marilah kita jelaskan jawaban pertanyaan diatas. Setelah itu baru kita kupas penjabaran meluas tentang makna “Asy Syakuur” sebagai salah satu dari nama Allah yang mulia.

Perbedaan antara antara sifat Allah dengan sifat makhluk ketika sama dalam penyebutan nama.

“Asy Syakuur” sebagai salah satu dari nama Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna dalam membalas amalan hamba-nya dan menumbuh kembangkan amalan para hamba meskipun amalan tersebut sedikit, lalu Dia lipat gandakan pahala bagi mereka [4].

Walaupun ada kesamaan dari segi lafaz nama antara sifat hamba dengan sifat Allah, tetapi hakikat makna dari masing-masing nama tersebut sangat jauh berbeda sebagaimana perbedaan antara Allah itu sendiri dengan makhluk-Nya. Kesamaan disini hanya dalam bentuk nama atau lafaz kata saja tidak dalam segi makna secara keseluruhan. Sebagaimana terdapat dalam dalam sifat-sifat yang lainnya ada kesamaan dalam bentuk lafaz nama, namun tidak sama dalam segi hakikat makna secara keseluruhan.

Sebagaimana Allah bersifat hidup (Al Hayyu) demikian pula makhluk juga bersifat hidup, tetapi hidup Allah tidak sama dengan hidup makhluk. Hidup Allah tidak butuh pada makan dan minum adapun hidup makhluk butuh makan dan minum serta memiliki berbagai kekurangan seperti sakit, capek, letih, haus, lapar dan seterusnya.. Hidup Allah tidak diawali dengan ketiadaan (‘adam) dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al fanaa’). Adapun hidup makhluk diawali dengan ketiadaan dan diakhiri oleh kematian. Sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:
عن ابن عباس صلى الله عليه و سلم أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول: (( أعوذ بعزتك الذي لا إله إلا أنت الذي لا يموت والجن والإنس يموتون)) متفق عليه

Diriwayatkan Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berdo’a: “Aku berlindung dengan keperkasaan Engkau. Yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Zat yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sabda yang lain beliau katakan,
(اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ) رواه مسلم

“Ya Allah Engkaulah Yang pertma Tiada sesuatupun sebelum Engkau. Dan Engkalah yang terakhir tiada sesuatupun setelah Engkau.” (HR. Muslim).

Hidup Allah sangat sempurna dari segala segi, adapun hidup makhluk penuh dengan berbagai kekurangan. Allah adalah Zat Yang Maha Hidup Sempurna, sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya,
اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ… البقرة : ٢٥٥

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak pernah ditimpa rasa ngantuk dan tidak pula tidur.”

Demikianlah kita mengimani seluruh sifat-sifat Allah, kita tidak boleh menyerupakan Allah dengan makhluk sebaliknya kita juga tidak boleh mengingkari nama dan sifat-sifat Allah, yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits-hadits beliau. Dengan berlandaskan pada perkataan Allah,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . الشورى: ١١

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Dalam ayat diatas ditegaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. Sebahagian orang memahami ayat tersebut bahwa Allah tidak memilki sifat-sifat lantaran ada kesamaan dalam penamaan dengan sifat-sifat makhluk. Aggapan tersebut bertentangan dengan penggalan akhir dari ayat tersebut. Dimana Allah menyatakan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sedangkan manusia juga mendengar dan melihat sebagaimana Allah katakan dalan firman-Nya,
إِنَّا خَلَقْنَا اْلإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا. الإنسان: ٢

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

Dari sini dapat kita pahami bahwa Allah memiliki sifat-sifat sempurna sekalipun sifat-sifat tersebut terdapat pada sebagian mahkluk namun maknanya tidak sama dengan kwalitas makna sifat-sifat Allah. Kalau seandainya yang dimaksud dalam ayat yang lalu menafikan sifat tentu konteknya tidak sebagaimana tersebut di atas. Pasti langsung Allah nafikan bahwa Dia tidak memiliki sifat. Jadi yang dinafikan adalah kesamaan makna sifat bukan sifat. Sekalipun dalam penamaan sifat tersebut ada kesamaan dengan sifat makhluk.

Hal ini dapat terima oleh akal, fakta dan agama. Bahwa sesuatu yang sama dalam penyebutan nama namun kwalitas dan kwantitas bisa berbeda. Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak sekali sama nama namun berbeda bentuk dan kwalitasnya.

Sebagai contoh manusia memiliki sifat melihat, kucing pun memiliki sifat melihat. Tapi penglihatan manusia dengan penglihatan kucing tidak sama. Manusia tidak bisa melihat pada waktu malam tanpa cahaya. Adapun kucing bisa berjalan di malam hari meskipun tanpa cahaya. Jika sifat sesama makhluk saja tidak sama dalam hakikat kwalitas makna, sekalipun sama dalam segi penamaan yaitu penglihatan. Maka kepastian perbedaan antara sifat Allah Yang Maha Sempurna dengan sifat makhluk jauh lebih pasti, meskipun sama dari segi lafaz nama. Yang membedakan makna adalah kemana sifat tersebut disandarkan, maka sifat tersebut memiliki makna dan bentuk sesuai dengat zat dimana ia disandarkan (digabungkan). Maka jangan dipahami ketika menyebut tetang sifat Allah digambarkan seperti sifat makhluk. Sebagaimana kita tidak memahami tentang telinga gajah seperti telinga kodok atau telinga manusia, sekalipun sama-sama disebut telinga. Sifat-sifat akan berbeda sesuai dengan zat masing-masing sifat tersebut. Bahkan pada zat yang sama sifat bisa berbeda. Seperti sifat pendengaran manusian tidak sama antara satu dengan yang lainnya. ada yang dapat mendengar dengan jarak cukup jauh sebaliknya ada yang tidak bisa mendengar kecuali dengan alat bantu, namanya tetap disebut pendengaran. Bahkan sifat bisa berubah-rubah kwalitas dan frekuwensinya pada satu zat, ketika seseorang berumur lima tahun pendengarannya tidak sama ketika telah berumur lima puluh tahun.

Demikianlah halnya dalam mengimani segala sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits yang shahih. Dimana Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah itu sendiri tidak seperti sifat-sifat makhluk. Setelah kita memhami bahwa adanya perbedaan antara sifat yang disandarkan kepada Allah dengan sifat yang disandarkan kepada makhluk meskipun ada kesamaan dalam segi lafaz penamaannya. Pada berikut ini kita coba menjelaskan makna nama Allah Asy Syakuur yang menjadi topik bahasan kita pada kesempatan ini.

 Penjabaran makna nama Allah “Asy Syakuur“

Jika kita memperhatikan kontek ayat-ayat yang menyebutkan tentang nama Allah Asy Syakuur selalu berada setelah menyebutkan tentang anjuran untuk melakukan amal-amal sholih dan balasannya. Maka nama tersebut sangat erat hubungannya dengan amal sholih dan balasannya. Untuk lebih jelasnya mari kita simak dan kita tela’ah ayat-ayat tersebut pada berikut ini.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ {29} لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ {30} . فاطر: 29-٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dalam bentuk tersembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah merugi. Allah akan menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dalam ayat diatas nama Allah “Asy Syakuur” disebutkan setelah menyebutkan tentang balasan bagi orang-orang yang beramal sholih. Seperti membaca Al Quran, mendirikan shalat dan berinfaq. Baik dalam keadaan tersembunyai maupun secara terang-terangan. Allah memberikan kepada mereka balasan yang sempurna. Bahkan Allah menambah karunia-Nya kepada mereka sebagai tambahan atas pahala amalan mereka tersebut. Lalu ayat yang mulia tersebut ditutup dengan nama Allah “Asy Syakuur“. Dari sini dapat kita pahami bahwa balasan yang diberikan kepada mereka merupakan aplikasi dan pembuktian tentang makna dari nama Allah “Asy Syakuur” (Maha Sempurna dalam membalas budi). Bentuk-bentuk dari kesempurnaan Allah dalam membalas amal sholih yang dikerjakan hamba tergambar dalam berbagai bentuk.

Diantara makna “Asy Syakuur”: Allah Menerima amalan sedikit yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan tidak menyia-nyiakannya walau sekecil apapun.

Sebagai bukti bahwa Allah Maha Sempurna dalam membalas amalan hamba-Nya. Dimana Allah tidak pernah menyiakan-nyiakan amalan hamba-Nya, walau sekecil apapun amalan tersebut. Sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya,
إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا . النساء: ٤٠

“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi (seseorang) walaupun sebesar zarrah, dan jika ada satu kebajikan, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Dan firman Allah lagi,
أَنِّى لآَأُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى بَعْضُكُم). آل عمران: ١٩٥

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan.”

Dan masih banyak ayat lain yang senada dengan kandungan ayat-ayat di atas[5].

Oleh sebab itu, janganlah kita merasa malu untuk melakukan amal-amal sholih sekalipun amat sedikit dalam pandangan manusia. Demikian pula tidak boleh meremehkan amalan seseorang walau sedikit, karena di sisi Allah tetap memiliki nilai sebagai amal sholih yang mungkin pahalanya bisa berlipat ganda.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,
عن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال لي النبي صلى الله عليه و سلم (لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق) رواه مسلم

Berkata Abu Zar radhiallahu ‘anhu: berkata kepadaku Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam: “Janganlah engakau meremehkan sedikitpun dari kebaikan sekalipun ketika engkau berjumpa saudarmu dengan wajah berseri.” (HR. Muslim).

Dalam sabda lain Beliau nyatakan pula,
عن عدي بن حاتم رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: (( اتقوا النار ولو بشق تمرة فمن لم يجد شق تمرة فبكلمة طيبة) رواه البخاري ومسلم

Dari ‘Ady bin Hatim radhiallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Takutlah kamu akan api neraka walau (bersedekah) dengan sebelah buah kurma, jika kamu tidak mendapati sebelah buah kurma, maka dengan perkataan yang baik”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah pasti akan memperlihatkan balasannya kepada kita. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . الزلزلة:7

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Diantara makna “Asy Syakuur” pula: Allah memuji hamba yang taat dan beramal sholih kepada-Nya.

Sebagai bukti atas kesempurnaan Allah dalam mebalas amalan para hamba-Nya dimana Allah memuji hamba-hamba yang tunduk dan patuh pada-Nya. Allah gambarkan kepada makhluk tentang ibadah dan perjuangan mereka.

Dalam Alquran banyak sekali ayat-ayat yang memuji makhluk yang ta’at dan tunduk pada Allah. Baik dari golongan para malaikat dan jin maupun manusia dari para nabi dan rasul serta pengikut-pengikut mereka.

Berikut pujian Allah kepada para malaikat, Mereka adalah makhluk yang tidak pernah melanggar apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka mengerjakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka,
{لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم/6]

“Mereka dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.”
{بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ} [الأنبياء/26، 27]

“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.”

Begitu pula pujian Allah kepada para nabi dan rasul, mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan dipilih Allah. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, maka mereka tersungkur bersujud dan menangis. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (56) وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (57) أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا [مريم/54-58

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Alquran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinyauntuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tersungkur bersujud dan menangis.”

Demikian pula pujian Allah terhadap para sahabat, bahwa mereka bersikap keras tarhadap musuh-musuh Allah, tetapi berkasih sayang terhadap sesama muslim. Mereka orang-orang yang banyak ruku’ dan sujud dalam mencari karunia dan keridhaan Allah, sehingga memberi bekas pada wajah mereka. Mereka bagaikan pohon yang berdaun rindang, akarnya menghujam ke bumi dan dahannya menjulang kelangit. Allah menjanjikan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الفتح/29

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Diantara makna “Asy Syakuur” pula: dimana amalan yang sedikit akan senantiasa bertambah dan berkembang di sisi Allah.

Diantara bentuk kesempurnaan Allah dalam membalas amal baik dari makhluk yaitu senantiasa berkembang dan bertambahnya pahala amalan tersebut di sisi Allah.

Sebagaimana yang terdapat dalam ayat berikut Allah sebutkan dalam firman-Nya,
وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ شَكُورٌ ) الشورى: ٢٣

” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Demikian pula disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya,
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : “ما تصدق أحد بصدقة من طيب ولا يقبل الله إلا الطيب إلا أخذها الرحمن بيمينه وإن كانت تمرة فتربو في كف الرحمن حتى تكون أعظم من الجبل كما يربي أحدكم فلوه أو فصيله”. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam: “Tidak seorangpun bersedekan dari yang baik, -dan Allah tidak menerima kecuali yang bailk- melainkan Allah ambil dengan tangan kanan-Nya, sekalipun sebiji kurma, maka ia akan semakin membesar di tangan Allah. Sehingga ia akan menjadi lebih besar dari gunung. Sebagaimana salah seorang kalian memelihra anak kuda atau anak onta”. (HR. Muslim).

Begitu juga dianatara makana “Asy Syakuur”: Allah Memberi balasan pahala terhadap sebuah amalan dengan pahala yang berlipat ganda, sampai tujuh ratus kali lipat dan bahkan berkali-kali lipat lagi.

Sebagaimana firman Allah,
إِن تُقْرِضُوا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ ) التغابن: 17

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.”

Dalam ayat lain Allah sebutkan,
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً} [البقرة/245]

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan (pahala) kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ )الحديد: ١٨

“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (balasannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”

Hal ini juga disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya,
عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم فيما يروي عن ربه عز وجل. قال قال (( إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها وعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة)) متفق عليه

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tentang apa yang diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dari Rabbnya “Sesungguhnya Allah telah menulis segala kebaikan dan kejelekkan. Kemudian Allah jelaskan yang demikian. Barangsiapa yang berencana melakukan sebuah kebaikan lalu ia tidak melakukannya. Allah telah menuliskan baginya satu kebaikan di sisi Allah. Jika ia berencana melakukan sebuah kebaika lalu dikerjakannya. Allah menuliskan di sisi-Nya untuk orang tersebut sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, hinnga berkali-kali lipat yang banyak. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula diantara makna “Asy Syakuur”: Allah Menambah diatas pahala yang berlipat-lipat ganda tersebut dengan karunia yang berilipat ganda pula.

Allah Yang Maha Mesyukuri perbuatan amal shaleh hamba yang sedikit dengan balasan yang berlipat-lipat. Amalan yang dilakukan dengan beberapa hari saja waktu di dunia Allah balas dengan nikmat yang kekal abadi yaitu surga dengan segala nikmat yang terdapat dalamnya. Jika kita bandingan nikmat yang diberikan Allah kepada kita dengan amal shaleh yang kita lakukan tentu tidak ada perbandingannya sama sekali. Bahkan amal shaleh itu sendiri berkat rahmat Allah jua dapat kita lakukan. Semua alat dan fasilitas yang kita gunakan adalah milik Allah.

Karena itulah para penghuni surga memuji Allah ketika mereka menikmati balasan Amalan mereka serta karunia yang diberikan Allah kepada mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah,
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ {33} وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ {34})فاطر: ٣٣ – 34

“(Bagi mereka) syurga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.”

Bahkan nikmat yang terdapat dalam surga tersebut senantiasa bertambah setiap saat. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ} [ق/35

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.”

Dalam ayat yang lain Allah firmankan,
{ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الحسنى وَزِيَادَةٌ } [ يونس : 26 ]

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”

Maka nikmat yang mereka terima dalam surga tersebut jika dibandingkan dengan amalan mereka tidak ada bandingannya sama sekali. Jangankan untuk membeli surga dengan amalan mereka. Fasilitas dan rezki yang diberikan Allah kepada mereka ketika dalam beramal kepada Allah tidak akan pernah bisa mereka tebus dengan amalan mereka. Maka sugra hanyalah semata karunia dari Allah kepada para hamba-Nya.

Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: ((لن يدخل أحدا عمله الجنة، قالوا ولا أنت يا رسول الله ؟ قال ولا أنا إلا أن يتغمدني الله بفضل ورحمة)). متفق عليه

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Seseorang tidak akan masuk surga karena Amalannya (semata). Sahabat bertanya: termesuk engkau Ya Rasulullah? Beliau jawab: termasuk Aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia kepadaku”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi surga tidak dapat dibeli atau tukar dengan amalan kita, tetapi surga semata rahmat dan karunia dari Allah kepada orang-orang beramal sholih. Kita mendapat rahmat karena kita mau beramal sholih. Jika tidak, maka kita termasuk orang yang tidak berhak mendapat rahmat Allah.

Makna nama Allah “As Syakuur” menunjukkan kesempurnaan yang mutlak bagi Allah dalam membalas amal shaleh para hamba-Nya.

Hal tersebut akan semakin jelas ketika nama “Asy Syakuur” berpaparan dalam satu ayat dengan nama-nama Allah yang lain.

Seperti nama Allah “Asy Syakuur” bergandengan dalam satu ayat dengan nama Allah “Al Ghafuur“. Sebagaimana dalam firman Allah,
إِنَّ اللهَ غَفُورٌ شَكُورٌ. الشورى: ٢٣

” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Hal ini terdapat dalam tiga tempat dalam Alquran, yang lainnya dalam surat “Faathir” ayat 30 dan 34.

Dan pada kali yang lain nama Allah “Asy Syakuur” bergandengan dalam satu ayat dengan nama Allah “Al Haliim“. Sebagaimana dalam firman Allah,
رِضُوا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ . التغابن: 17

Para ulama menjelaskan penggandengan kedua nama tersebut memiliki hubungan makna dari kedua nama yang bergandengan tersebut. Dimana makna tersebut tidak diperoleh disaat nama tersebut disebutkan secara tersendiri.

Maka diantara penjabaran makna “Asy Syakuur” ketika berdampingan dengan nama Allah “Al Ghafuur“: bahwa diantara bentuk balasan amal shaleh adalah pengampunan terhadap dosa-dosa dan kesalahan pelakunya. Maka amal baik akan menghapus amalan jelek. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود/114]

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”

Juga firman Allah,
{يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ} [الفرقان/70]

“Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebajikan.”

Firman Allah lagi,
{إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ} [النساء/31]

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda,
عن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم: ((اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن)) رواه الترمذي وقال: “حديث حسن صحيح

Berkata Abu Dzar radhiallahu ‘anhu: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, “Bertaqwalah kepada Allah dimanpun kamu berada dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapus (dosa) perbuatan jelek tersebut, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmizi, ia berkata: “hadist ini hasan sahih).

Beberapa pelajara yang dapat kita ambil melalui nama Allah “Asy Syakuur”

Berikutnya kita sebutkan beberapa faidah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari mengetahui dan memahami makna dari nama Allah “Asy Syakuur“. Sebetulnya inilah tujuan yang sesungguhnya bagi seorang muslim dalam mengetahui nama-nama Allah tersebut. Dimana hal tersebut memberikan bekas dan pengaruh kepada iman dan ibadah serta akhlak seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan memahami makna nama Allah “Asy Syakuur” akan menumbuhkan sifat-sifat yang mulia dalam diri seorang muslim, diantaranya:

1. Mewajibkan kita untuk menyerahkan segala bentuk ibadah semata-mata hanya kepada Allah. Jika kita mengharapkan balasan yang berlipat-lipat ganda dari Allah. Adapun selain Allah baik malaikat, para nabi dan wali merekapun mengharap pahala dari Allah. Jadi tidak sepantasnya kita memberikan sedikitpun ibadah kita kepada mereka. Mereka tidak memiliki kemampuan sedikitpun memberikan pahala kepada sesama makhluk. Ibadah dan perbuatan baik yang akan diberi pahala oleh Allah hanyalah ibadah yang semamta-mata ditujukan kepada Allah saja. Serta ibadah yang tidak dicampuri oleh sedikitpun oleh noda-noda kesyirikan. Sebagaimana firman Allah,
{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الزمر/65]

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Sebagaimana kata Allah dalam hadist qudsi,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ((قال الله تبارك وتعالى أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه)) رواه مسلم

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Allah bersabda, ‘Aku sedikitpun tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang beramal mempersekutukan aku dalamnya dengan selainku. Aku meninggalkan dia dan kesyirikannya.’” (HR. Muslim).

2. Memotifasi kita untuk bersemangat dalam berbuat baik, sekalipun kebaikan tersebut volumenya kecil dalam pandangan manusia. Karena Allah akan menrima amal baik walau sebesar biji zarrah sekalipun. Jika amal sedikit tetap mendapat pahala, tentu amalan yang besar akan semakin besar pula pahalanya. Balasan amal baik amat beragam bentuknya di berikan Allah sebagimana yang telah simak dalam penjesan makna nama Allah “Asy Syakuur“. Banyak sekali amalan yang ringan tetapi memiliki nilai yang berat di sis Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ((كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان حبيبتان إلى الرحمن سبحان الله العظيم سبحان الله وبحمده)) متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Dua kalimat amat ringan diucapkan, amat berat dalam timbangan, amat dicintai oleh Allah, yaitu; Subhaanallahi Al ‘Athiim, Subhaanallahi Wabihamdih.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Menumbuhkan rasa bersyukur yang tinggi dalam diri kita kepada Allah atas segala limpahan rahmat-nya yang tidak terhingga. Syukur seorang hamba terdiri di atas tiga hal, ia belum bersyukur secara sempurna kecuali dengan ketiga hal tersebut; Pertama: pengakuan bahwa seluruh nikmat datang dari Allah semata. Kedua: memuji Allah atas segala nikmat yang diberikan Allah. Ketiga: Memobilisasi nikmat tersebut untuk mencari keredhaan Allah. Allah akan menambah nikmat-nikmat yang lain serta menjaga nikmat yang telah diberikan kepada kita bila senantiasa bersyukur kepada Allah. Sebaliknya Allah akan mencabut berbagai nikmat yang kita miliki jika kita kufur terhadap nikmat-nikmat Allah. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,
{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ{7}

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan: Jika kamu besyukur, sungguh Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu mengkufuri (nikmat tersebut) sesungguhnya azabKu amat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).

Dan firman-Nya lagi,
{مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ }

“Allah tidak akan mengazabmu jika kamu bersyukur dan beriman.” (QS. An Nisaa’: 147).

4. Menimbulkan sifat hormat dan taat pada orang tua, karena hal tersebut termasuk dalam bentuk syukur kepada Allah. Sebagaimana Allah perintahkan dalam firman-Nya,
{أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ} [لقمان/14]

“Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu.”

Dalam beberapa ayat Alquran perintah berbuat baik kepada kedua orang tua selalu dinyatakan setelah hak Allah. Ini menunjukkan betapa besarnya hak orang tua di atas anak-anak mereka. Orang yang tidak berterimakasih kepada kedua orang tuanya seakan-akan ia belum bersyukur kepada Allah. Betapa besarnya jasa orang tua kita jika kita merenungkan sejenak tentang pengorbanan dan kesusahan mereka dalam mendidik kita.

Jalan yang terbaik dalam membalas jasa mereka adalah menjadi anak yang shaleh, dan senantiasa mendoakan mereka.

5. Menubuhkan sikap suka berterimakasih dan membalas budi dalam diri kita kepada orang yang memberikan kebaikan kepada kita, sekalipun berupa doa. Hal tersebut termasuk dalam bentuk syukur kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ” لا يشكر الله من لا يشكر الناس “. رواه أبو داود والترمذي. وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. وقال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih kepada manusia“. (HR. Abu Daud dan Tirmizi, berkata Tirmizi, “hadist ini hasan shahih“. Juga dishahihkan Syeikh Al-Bani).
عن ابن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: “من صنع إليكم معروفا فكافئوه فإن لم تجدوا ما تكافئوا به فادعوا له حتى تروا أنكم قد كافأتموه ” . رواه أبو داود والنسائي. وقال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka hendaklah kamu mebalasnya! Jika kamu tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia. Sampai kamu melihat bahwa kamu sudah membalasnya”. (HR. Abu Daud dan Nasai, disahihkan oleh Syeikh Al-Bani).

Demikianlah bahasan kita kali ini, semoga Allah menjadikan kita orang-orang bersyukur, berbuat baik pada kedua orang tua dan biasa berterimakasih dan balas budi kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Wallahu A’lam.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك
——————————————-
[1] Lihat surat Faathir ayat: 30 & 34, dan surat At Taghaabunayat: 17.

[2] Lihat Lisanul Ara, 4/424, 425.

[3] Hal ini terdapat dalam banyak ayat lihat surat Ibrahim ayat: 5, surat Luqman ayat: 31, surat Saba’ ayat: 19. dll

[4] Lihat An Nihayah fi Ghariibil Hadits, 2/493 & ‘Uddatush Shaabiriin: 240.

[5] Lihat QS. Ali ‘Imran: 171, QS. At Taubah: 120 dll.

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: